Showing posts with label Pendidikan. Show all posts
Showing posts with label Pendidikan. Show all posts

Monday, October 13, 2014

Macam-Macam Contoh Strategi Pembelajaran

Pengertian Strategi Pembelajaran



Strategi merupakan usaha untuk memperoleh kesuksesan dan keberhasilan dalam mencapai tujuan. Dalam dunia pendidikan strategi dapat diartikan sebagai a plan, method, or series of activities designed to achieves a particular educational goal (J. R. David, 1976). Strategi pembelajaran dapat diartikan sebagai perencanaan yang berisi tentang rangkaian kegiatan yang didesain untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Strategi pembelajaran merupakan rencana tindakan (rangkaian kegiatan) termasuk penggunaan metode dan pemanfaatan berbagai sumber daya atau kekuatan dalam pembelajaran yang disusun untuk mencapai tujuan tertenu. Dalam hal ini adalah tujuan pembelajaran.

Pada mulanya istilah strategi banyak digunakan dalam dunia militer yang diartikan sebagai cara penggunaan seluruh kekuatan militer untuk memenangkan suatu peperangan. Sekarang, istilah strategi banyak digunakan dalam berbagai bidang kegiatan yang bertujuan memperoleh kesuksesan atau keberhasilan dalam mencapai tujuan. Misalnya seorang manajer atau pimpinan perusahaan yang menginginkan keuntungan dan kesuksesan yang besar akan menerapkan suatu strategi dalam mencapai tujuannya itu, seorang pelatih akan tim basket akan menentukan strategi yang dianggap tepat untuk dapat memenangkan suatu pertandingan. Begitu juga seorang guru yang mengharapkan hasil baik dalam proses pembelajaran juga akan menerapkan suatu strategi agar hasil belajar siswanya mendapat prestasi yang terbaik.

Strategi pembelajaran adalah suatu kegiatan pembelajaran yang harus dikerjakan guru dan siswa agar tujuan pembelajaran dapat dicapai secara efektif dan efisien. Kemp (1995). Dilain pihak Dick & Carey (1985) menyatakan bahwa strategi pembelajaran adalah suatu set materi dan prosedur pembelajaran yang digunakan secara bersama-sama untuk menimbulkan hasil belajar pada siswa.

Kemudian bagaimana cara memilih strategi pembelajaran yang efektif? Pada posting kali ini saya akan menjelaskan macam-macam contoh strategi pembelajaran yang dapat anda terapkan di kelas.

Macam-Macam Strategi Pembelajaran

A. Metode Ceramah

Metode ceramah adalah penuturan bahan pelajaran secara lisan. Metode ini senantiasa bagus bila pengunaannya betul-betul disiapkan dengan baik, didukung alat dan media serta memperhatikan batas-batas kemungkinan penggunaannya.

Metode ceramah merupakan metode yang sampai saat ini sering digunakan oleh setiap guru atau instruktur. Hal ini selain disebabkan oleh beberapa pertimbangan tertentu, juga adanya faktor kebiasaan baik dari guru atau pun siswa. Guru biasanya belum merasa puas manakala dalam proses pengelolaan pembelajaran tidak melakukan ceramah. Demikian juga dengan siswa, mereka akan belajar manakala ada guru yang memberikan materi pelajaran melalui ceramah, sehingga ada guru yang berceramah berarti ada proses belajar dan tidak ada guru berarti tidak ada belajar. Metode ceramah merupakan cara yang digunakan untuk mengimplementasikan strategi pembelajaran ekspositori.

Kelebihan dan Kelemahan Metode Ceramah
Ada beberapa kelebihan sebagai alasan mengapa ceramah sering digunakan.

  • Ceramah merupakan metode yang 'murah' dan 'mudah' untuk dilakukan. Murah dalam arti proses ceramah tidak memerlukan peralatan-peralatan yang lengkap, berbeda dengan metode yang lain seperti demonstrasi atau peragaan. Sedangkan mudah, memang ceramah hanya mengandalkan su- ara guru, dengan demikian tidak terlalu memerlukan persiapan yang rumit. 
  • Ceramah dapat menyajikan materi pelajaran yang luas. Artinya, materi pelajaran yang banyak dapat dirangkum atau dijelaskan pokok-pokoknya oleh guru dalam waktu yang singkat. 
  • Ceramah dapat memberikan pokok-pokok materi yang perlu ditonjolkan. Artinya, guru dapat mengatur pokok-pokok materi yang mana yang perlu ditekankan sesuai dengan kebutuhan dan tujuan yang ingin dicapai. 
  • Melalui ceramah, guru dapat mengontrol keadaan kelas, oleh karena sepenuhnya kelas merupakan tanggung jawab guru yang memberikan ceramah. 
  • Organisasi kelas dengan menggunakan ceramah dapat diatur menjadi lebih sederhana. Ceramah tidak memerlukan setting kelas yang beragam, atau tidak memerlukan persiapan-persiapan yang rumit. Asal siswa dapat menempati tempat duduk untuk mendengarkan guru, maka ceramah sudah dapat dilakukan. 

Di samping beberapa kelebihan di atas, ceramah juga memiliki beberapa kelemahan, di antaranya:

  • Materi yang dapat dikuasai siswa sebagai hasil dari ceramah akan terbatas pada apa yang dikuasai guru. Kelemahan ini memang kelemahan yang pa- ling dominan, sebab apa yang diberikan guru adalah apa yang dikuasainya, sehingga apa yang dikuasai siswa pun akan tergantung pada apa yang dikuasai guru. 
  • Ceramah yang tidak disertai dengan peragaan dapat mengakibatkan terjadinya verbalisme. 
  • Guru yang kurang memiliki kemampuan bertutur yang baik, ceramah sering dianggap sebagai metode yang membosankan. Sering terjadi, walau pun secara fisik siswa ada di dalam kelas, namun secara mental siswa sama sekali tidak mengikuti jalannya proses pembelajaran; pikirannya melayang ke mana-mana, atau siswa mengantuk, oleh karena gaya bertutur guru tidak menarik. 
  • Melalui ceramah, sangat sulit untuk mengetahui apakah seluruh siswa sudah mengerti apa yang dijelaskan atau belum. Walaupun ketika siswa diberi kesempatan untuk bertanya, dan tidak ada seorang pun yang bertanya, semua itu tidak menjamin siswa seluruhnya sudah paham. 

B. Metode Demonstrasi

Demonstrasi merupakan metode pembelajaran yang sangat efektif, sebab membantu siswa untuk mencari jawaban dengan usaha sendiri berdasarkan fakta atau data yang benar. Metode demonstrasi merupakan metode penyajian pelajaran dengan memperagakan dan mempertunjukkan kepada siswa tentang suatu proses, situasi atau benda tertentu, baik sebenarnya atau hanya sekadar tiruan. Sebagai metode penyajian, demonstrasi tidak terlepas dari penjelasan secara lisan oleh guru. Walaupun dalam proses demonstrasi peran siswa hanya sekadar memerhatikan, akan tetapi demonstrasi dapat menyajikan bahan pelajaran lebih konkret. Dalam strategi pembelajaran, demonstrasi dapat digunakan untuk mendukung keberhasilan strategi pembelajaran ekspositori dan inkuiri.

Kelebihan dan Kelemahan Metode Demonstrasi
Sebagai suatu metode pembelajaran demonstrasi memiliki beberapa kelebihan, di antaranya: 

  • Melalui metode demonstrasi terjadinya verbalisme akan dapat dihindari, sebab siswa disuruh langsung memperhatikan bahan pelajaran yang dijelaskan. 
  • Proses pembelajaran akan lebih menarik, sebab siswa tak hanya mendengar, tetapi juga melihat peristiwa yang terjadi. 
  • Dengan cara mengamati secara langsung siswa akan memiliki kesempatan untuk membandingkan antara teori dan kenyataan. Dengan demikian siswa akan lebih meyakini kebenaran materi pembelajaran. 

Di samping beberapa kelebihan, metode demonstrasi juga memiliki beberapa kelemahan, di antarannya:

  • Metode demonstrasi memerlukan persiapan yang lebih matang, sebab tanpa persiapan yang memadai demonstrasi bisa gagal sehingga dapat menyebabkan metode ini tidak efektif lagi. Bahkan sering terjadi untuk menghasilkan pertunjukan suatu proses tertentu, guru harus beberapa kali mencobanya terlebih dahulu, sehingga dapat memakan waktu yang banyak. 
  • Demonstrasi memerlukan peralatan, bahan-bahan, dan tempat yang memadai yang berarti penggunaan metode ini memerlukan pembiayaan yang lebih mahal dibandingkan dengan ceramah. 
  • Demonstrasi memerlukan kemampuan dan keterampilan guru yang khusus, sehingga guru dituntut untuk bekerja lebih profesional. Di samping itu demonstrasi juga memerlukan kemauan dan motivasi guru yang bagus untuk keberhasilan proses pembelajaran siswa. 

C. Metode Diskusi

Metode diskusi adalah metode pembelajaran yang menghadapkan siswa pada suatu permasalahan. Tujuan utama metode ini adalah untuk memecahkan suatu permasalahan, menjawab pertanyaan, menambah dan memahami pengetahuan siswa, serta untuk membuat suatu keputusan (Killen, 1998). Karena itu, diskusi bukanlah debat yang bersifat mengadu argumentasi. Diskusi lebih bersifat bertukar pengalaman untuk menentukan keputusan tertentu secara bersama-sama.

Selama ini banyak guru yang merasa keberatan untuk menggunakan metode diskusi dalam proses pembelajaran. Keberatan itu biasanya timbul dari asumsi:

  1. diskusi merupakan metode yang sulit diprediksi hasilnya oleh karena interaksi antar siswa muncul secara spontan, sehingga hasil dan arah diskusi sulit ditentukan; 
  2. diskusi biasanya memerlukan waktu yang cukup panjang, padahal waktu pembelajaran di dalam kelas sangat terbatas, sehingga keterbatasan itu tidak mungkin dapat menghasilkan sesuatu secara tuntas. Sebenarnya hal ini tidak perlu dirisaukan oleh guru. Sebab, dengan perencanaan dan persiapan yang matang kejadian semacam itu bisa dihindari.

Dilihat dari pengorganisasian materi pembelajaran, ada perbedaan yang sangat prinsip dibandingkan dengan metode sebelumnya, yaitu ceramah dan demonstrasi. Kalau metode ceramah dan demonstrasi materi pelajaran sudah diorganisir sedemikian rupa sehingga guru tinggal menyampaikannya, maka pada metode ini bahan atau materi pembelajaran tidak diorganisir sebelumnya serta tidak disajikan secara langsung kepada siswa, matari pembelajaran ditemukan dan diorganisir oleh siswa sendiri, karena tujuan utama metode ini bukan hanya sekadar hasil belajar, tetapi yang lebih penting adalah proses belajar.

Secara umum ada dua jenis diskusi yang biasa dilakukan dalam proses pembelajaran. Pertama, diskusi kelompok. Diskusi ini dinamakan juga diskusi kelas. Pada diskusi ini permasalahan yang disajikan oleh guru dipecahkan oleh kelas secara keseluruhan. Pengatur jalannya diskusi adalah guru. Kedua, diskusi kelompok kecil. Pada diskusi ini siswa dibagi dalam beberapa kelompok. Setiap kelompok terdiri dari 3-7 orang. Proses pelaksanaan diskusi ini dimulai dari guru menyajikan masalah dengan beberapa submasalah. Setiap kelompok memecahkan submasalah yang disampaikan guru. Proses diskusi diakhiri dengan laporan setiap kelompok.

Kelebihan dan Kelemahan Metode Diskusi
Ada beberapa kelebihan metode diskusi, manakala diterapkan dalam kegiatan belajar mengajar.

  • Metode diskusi dapat merangsang siswa untuk lebih kreatif, khususnya dalam memberikan gagasan dan ide-ide. 
  • Dapat melatih untuk membiasakan diri bertukar pikiran dalam mengatasi setiap permasalahan. 
  • Dapat melatih siswa untuk dapat mengemukakan pendapat atau gagasan secara verbal. Di samping itu, diskusi juga bisa melatih siswa untuk meng- hargai pendapat orang lain. 

Selain beberapa kelebihan, diskusi juga memiliki beberapa kelemahan, di antaranya:

  • Sering terjadi pembicaraan dalam diskusi dikuasai oleh 2 atau 3 orang siswa yang memiliki keterampilan berbicara. 
  • Kadang-kadang pembahasan dalam diskusi meluas, sehingga kesimpulan menjadi kabur. 
  • Memerlukan waktu yang cukup panjang, yang kadang-kadang tidak sesuai dengan yang direncanakan. 
  • Dalam diskusi sering terjadi perbedaan pendapat yang bersifat emosional yang tidak terkontrol. Akibatnya, kadang-kadang ada pihak yang merasa tersinggung, sehingga dapat mengganggu iklim pembelajaran. 

D. Metode Simulasi

Simulasi berasal dari kata simulate yang artinya berpura-pura atau berbuat seakan-akan. Sebagai metode mengajar, simulasi dapat diartikan cara penyajian pengalaman belajar dengan menggunakan situasi tiruan untuk me- mahami tentang konsep, prinsip, atau keterampilan tertentu. Simulasi dapat digunakan sebagai metode mengajar dengan asumsi tidak semua proses pembelajaran dapat dilakukan secara langsung pada objek yang sebenarnya. Gladi resik merupakan salah satu contoh simulasi, yakni memperagakan proses terjadinya suatu upacara tertentu sebagai latihan untuk upacara sebenarnya supaya tidak gagal dalam waktunya nanti. Demikian juga untuk mengembangkan pemahaman dan penghayatan terhadap suatu peristiwa, penggunaan simulasi akan sangat bermanfaat.

Metode simulasi bertujuan untuk:

  1. melatih keterampilan tertentu baik bersifat profesional maupun bagi kehidupan sehari-hari, 
  2. memperoleh pemahaman tentang suatu konsep atau prinsip, 
  3. melatih memecahkan masalah, 
  4. meningkatkan keaktifan belajar, 
  5. memberikan motivasi belajar kepada siswa, 
  6. melatih siswa untuk mengadakan kerjasama dalam situasi kelompok, 
  7. menumbuhkan daya kreatif siswa, dan 
  8. melatih siswa untuk mengembangkan sikap toleransi.

Kelebihan dan Kelemahan Metode Simulasi
Terdapat beberapa kelebihan dengan menggunakan simulasi sebagai metode mengajar, di antaranya adalah:

  • Simulasi dapat dijadikan sebagai bekal bagi siswa dalam menghadapi situasi yang sebenarnya kelak, baik dalam kehidupan keluarga, masyarakat, maupun menghadapi dunia kerja. 
  • Simulasi dapat mengembangkan kreativitas siswa, karena melalui simulasi siswa diberi kesempatan untuk memainkan peranan sesuai dengan topik yang disimulasikan. 
  • Simulasi dapat memupuk keberanian dan percaya diri siswa. 
  • Memperkaya pengetahuan, sikap, dan keterampilan yang diperlukan dalam menghadapi berbagai situasi sosial yang problematis. 
  • Simulasi dapat meningkatkan gairah siswa dalam proses permbelajaran. 

Di samping memiliki kelebihan, simulasi juga mempunyai kelemahan, di antaranya:

  • Pengalaman yang diperoleh melalui simulasi tidak selalu tepat dan sesuai dengan kenyataan di lapangan. 
  • Pengelolaan yang kurang baik, sering simulasi dijadikan sebagai alat hiburan, sehingga tujuan pembelajaran menjadi terabaikan. 
  • Faktor psikologis seperti rasa malu dan takut sering memengaruhi siswa dalam melakukan simulasi. 

E. Metode Tugas dan Resitasi

Metode tugas dan resitasi tidak sama dengan pekerjaan rumah, tetapi lebih luas dari itu. Tugas dan resitasi merangsang anak untuk aktif belajar baik secara individu atau kelompok. Tugas dan resitasi bisa dilaksanakan di rumah, di sekolah, di perpustakaan dan tempat lainnya.

Jenis-jenis tugas sangat banyak tergantung pada tujuan yang akan dicapai, seperti tugas meneliti, menyusun laporan, dan tugas di laboratorium.

F. Metode Tanya Jawab

Metode tanya jawab adalah metode mengajar yang memungkinkan terjadinya komunikasi langsung yang bersifat two way traffic sebab pada saat yang sama terjadi dialog antara guru dan siswa. Guru bertanya siswa menjawab atau siswa bertanya guru menjawab. Dalam komunikasi ini terlihat adanya hubungan timbal balik secara langsung antara guru.

G. Metode Kerja Kelompok

Metode kerja kelompok atau bekerja dalam situasi kelompok mengandung pengertian bahwa siswa dalam satu kelas dipandang sebagai satu kesatuan (kelompok) tersendiri ataupun dibagi atas kelompok-kelompok kecil (sub-sub kelompok). Kelompok bisa dibuat berdasarkan:

  • Perbedaan individual dalam kemampuan belajar, terutama bila kelas itu sifatnya heterogin dalam belajar.
  • Perbedaan minat belajar, dibuat kelompok yang terdiri atas siswa yang punya minat yang sama.
  • Pengelompokan berdasarkan jenis pekerjaan yang akan kita berikan.
  • Pengelompokan atas dasar wilayah tempat tinggal siswa yang tinggal dalam satu wilayah yang dikelompokkan dalam satu kelompokan sehingga memudahkan koordinasi kerja.
  • Pengelompokan secara random atau dilotre, tidak melihat faktor-faktor lain.
  • Pengelompokan atas dasar jenis kelamin, ada kelompok pria dan kelompok wanita.

Sebaiknya kelompok menggambarkan yang heterogin, baik dari segi kemapuan belajar maupun jenis kelamin. Hal ini dimaksudkan agar kelompok-kelompok tersebut tidak berat sebelah (ada kelompok yang baik dan ada kelompok yang kurang baik) .

Untuk mencapai hasil yang baik, maka faktor yang harus diperhatikan dalam kerja kelompok adalah:

  • Perlu adanya motif (dorongan) yang kuat untuk bekerja pada setiap anggota.
  • Pemecahan masalah dapat dipandang sebagai satu unit dipecahkan bersama, atau masalah dibagi-bagi untuk dikerjakan masing-masing secara individual. Hal ini bergantung kepada kompleks tidaknya masalah yang akan dipecahkan
  • Persaingan yang sehat antarkelompok biasanya mendorong anak untuk belajar.
  • Situasi yang menyenangkan antar anggota banyak menentukan berhasil tidaknya kerja kelompok.

Demikian beberapa contoh strategi pembelajaran yang bisa anda terapkan di sekolah. Semoga bermanfaat.


DAFTAR PUSTAKA
- Ditjen PMPTK, Strategi Pembelajaran dan Pemilihannya, 2008.

Wednesday, September 10, 2014

Tips Belajar untuk Pelajar dengan Gaya Berpikir Sekuensial Konkret

Berikut tips belajar untuk Pelajar dengan Gaya Berpikir Sekuensial Konkret:
  1. BANGUNLAH KEKUATAN ORGANISASIONAL ANDA dengan cara mengatur secara realistis minggu-minggu dan hari-hari Anda; 
  2. KETAHUILAH SEMUA INFORMASI DETAIL YANG ANDA PERLUKAN untuk menyelesaikan suatu tugas; 
  3. BAGILAH TUGAS-TUGAS ANDA MENJADI BEBERAPA TAHAP dan tentukan tenggat waktu supaya Anda tidak merasa harus terburu-buru; 
  4. ATURLAH LINGKUNGAN BELAJAR/KERJA YANG TENANG. Ketahuilah apa saja yang dapat mengganggu konsentrasi Anda dan musnahkan itu.

Monday, September 8, 2014

Tips Belajar untuk Pelajar dengan Gaya Berpikir Sekuensial Abstrak

Berikut tips Belajar untuk pelajar dengan Gaya Berpikir Sekuensial Abstrak:
  1. LATIHLAH LOGIKA ANDA ketika memecahkan masalah, ubahlah masalah Anda menjadi situasi teoritis dan pecahkanlah dengan cara itu; 
  2. SUBURKAN KECERDASAN ANDA dengan memperbanyak rujukan dari berbagai sumber;
  3. UPAYAKAN UNTUK SELALU TERATUR dalam kehidupan pribadi dan karir Anda. Buatlah perencanaan langkah-langkah dan waktu yang diperlukan sebagai permulaan untuk setiap pekerjaan Anda; 
  4. ANALISISLAH ORANG-ORANG YANG BERHUBUNGAN DENGAN ANDA. Jika Anda mengetahui gaya belajar dan gaya berpikir orang lain, maka akan lebih mudah bagi Anda untuk memahami mereka dan membuat mereka memahami Anda.

Sunday, September 7, 2014

Tips Belajar untuk Pelajar dengan Gaya Berpikir Acak Konkret

Berikut tips Belajar untuk Pelajar dengan Gaya Berpikir Acak Konkret:

  1. GUNAKAN KEMAMPUAN BERPIKIR DIVERGEN ANDA YANG LAIN. Percayalah bahwa melihat segala sesuat lebih dari satu sudut pandang adalah hal yang baik. Temukan dan ciptakan ide-ide alternatif, serta biasakanlah sikap selalu bertanya; 
  2. LIBATKAN DIRI ANDA DENGAN TUGAS/PEKERJAAN YANG MEMERLUKAN PEMECAHAN MASALAH, atau kerjakanlah tugas Anda sendiri dengan memunculkan pertanyaan dan kemudian memecahkannya; 
  3. CERMATI TENGGAT WAKTU untuk setiap tahap dari tugas Anda dan selalu usahakan untuk menyelesaikannya tepat waktu; 
  4. LAKUKAN PERUBAHAN-PERUBAHAN KECIL pada kebiasaan Anda untuk tetap menajamkan pikiran Anda, misalnya dengan berpindah ke ruangan atau tempat lain. 
  5. CARILAH DUKUNGAN dari orang-orang yang menghargai pemikiran divergen karena hal itu akan membantu Anda merasa yakin pada diri Anda.

Saturday, September 6, 2014

Tips Belajar untuk Pelajar dengan Gaya Berpikir Acak Abstrak

Berikut tips belajar untuk pelajar dengan Gaya Berpikir Acak Abstrak:

  1. GUNAKAN KEMAMPUAN ALAMIAH ANDA UNTUK BEKERJASAMA DENGAN ORANG LAIN dan gabungkanlah gagasan-gagasan Anda dengan rekan-rekan Anda; 
  2. KENALI BETAPA KUAT EMOSI MEMPENGARUHI KONSENTRASI ANDA. Hindari orang-orang negatif dan selesaikan masalah pribadi Anda dengan cepat. Hal ini dapat menguras tenaga Anda; 
  3. BANGUNLAH KEKUATAN BELAJAR ANDA DENGAN MENCIPTAKAN ASOSIASI VISUAL DAN VERBAL, seperti menggunakan metafora, cerita-cerita konyol, dan ungkapan-ungkapan kreatif lainnya untuk membantu Anda mengingat; 
  4. PELAJARI GAMBARAN UMUM dari pekerjaan Anda, baru kemudian ke detail-detail yang ada;
  5. CERMATI TENGGAT WAKTU untuk setiap tahap dari tugas Anda dan selalu usahakan untuk menyelesaikannya tepat waktu; 
  6. GUNAKAN ISYARAT-ISYARAT VISUAL, seperti menempelkan catatan pengingat di tempat-tempat yang mudah dijangkau oleh penglihatan Anda.

Friday, August 1, 2014

Kenali Gaya Berpikir Anda Sejak Dini

Gaya berpikir adalah kombinasi kelompok perilaku yang merupakan paduan antara persepsi otak (persepsi konkret dan persepsi abstrak) dan kemampuan pengaturan informasi (sekuensial dan acak). Orang yang masuk dalam dua kategori “sekuensial” cenderung memiliki dominasi otak kiri, sedangkan orang-orang yang berpikir secara “acak” biasanya termasuk dalam dominasi otak kanan (Bobbi DePorter dan Mike Hernacki, 2003). Tidak setiap orang harus masuk ke dalam salah satu klasifikasinya. Walaupun demikian, kita cenderung pada yang satu daripada yang lainnya. Beberapa orang bisa saja mempunyai keseimbangan diantara semua cara, namun kebanyakan jelas lebih menyukai satu cara dan melampaui tiga cara lainnya. 

Mengetahui dominasi cara berikir sejak dini membuat kita mampu memecahkan suatu masalah dengan memilih solusi paling efektif bagi keadaan semacam itu. Dengan kata lain, kita telah menyiapkan “karpet merah” menuju lebih banyak kesuksesan dengan mengetahui dominasi cara berpikir kita sejak dini.

Pada penelitian yang pernah dilakukan Anthoni Gregorc, dengan menggunakan metode quisioner yang dijawab oleh beberapa orang dan kemudian dikumpulkan kembali dan diolah untuk mendapatkan kesimpulan diketahui bahwa sesorang itu memiliki kecenderungan gaya berpikir sekuensial konkret (SK), sekuensial abstrak (SA), acak konkret (AK), dan acak abstrak (AA).

Pemikir Sekuensial Konkret (SK)

Seperti yang ditunjukkan istilah ini, pemikir sekuensial konkret berpegang pada kenyataan dan proses informasi dengan cara yang teratur, linear, dan sekuensial. Bagi para SK, realitas terdiri dari apa yang mereka ketahui melalui panca indra mereka. Mereka memerhatikan dan mengingat realitas, fakta-fakta, informasi, rumus-rumus, dan aturan-aturan khusus dengan mudah. 

Catatan atau makalah adalah cara baik bagi orang-orang ini untuk belajar. Pelajar SK harus mengatur tugas-tugas menjadi proses tahap demi tahap dan berusaha keras untuk mendapatkan kesempurnaan pada setiap tahap. Mereka menyukai pengarahan dan prosedur khusus. Karena kebanyakan dunia bisnis diatur dengan cara ini, mereka menjadi pebisnis yang sangat baik.

Berikut tips Belajar untuk Pelajar dengan Gaya Berpikir Sekuensial Abstrak, klik disini.

Pemikir Acak Konkret (AK)

Pemikir acak konkret mempunyai sikap eksperimental yang diiringi dengan perilaku yang kurang terstruktur. Seperti pemikir sekuensial konkret, mereka berdasarkan pada kenyataan, tapi ingin melakukan pendekatan coba-salah (trial and error). Karenanya, mereka sering melakukan lompatan intuitif yang diperlukan untuk pemikiran kreatif yang sebenarnya. Mereka mempunyai dorongan kuat untuk menemukan alternatif dan mengerjakan segala sesuatu dengan cara mereka sendiri. 

Waktu bukanlah prioritas bagi orang AK, dan mereka cenderung tidak memedulikannya, terutama jika sedang terlibat dalam situasi atau aktivitas yang menarik. Mereka lebih terorientasi pada proses daripada hasil; akibatnya, proyek-proyek seringkali tidak berjalan sesuai yang mereka rencanakan karena kemungkinan-kemungkinan yang muncul dan yang mengundang eksplorasi selama proses.

Berikut tips Belajar untuk Pelajar dengan Gaya Berpikir Sekuensial Abstrak, klik disini.

Pemikir Acak Abstrak (AA)

Dunia “nyata” untuk pelajar acak abstrak adalah dunia perasaan dan emosi. Mereka tertarik pada nuansa, dan sebagian lagi cenderung pada mistisme. Pikiran AA menyerap ide-ide, informasi, dan kesan dan mengaturnya dengan refleksi (kadang-kadang hal ini memakan waktu lama hingga orang lain tak menyangka bahwa orang AA mempunyai reaksi atau pendapat). Mereka mengingat dengan sangat baik jika informasi dipersonifikasikan. 

Perasaan juga dapat lebih meningkatkan atau memengaruhi belajar mereka. Mereka merasa dibatasi ketika berada di lingkungan yang sangat teratur sehingga anda tak akan menemukan banyak dari mereka bekerja di perusahaan asuransi, bank, atau sejenisnya. Mereka berkiprah di lingkungan yang tidak teratur yang berkaitan dengan orang-orang.

Pemikir AA mengalami peristiwa secara holistik; mereka perlu melihat gambaran sekaligus, bukan bertahap. Dengan alasan inilah, mereka akan terbantu jika mengetahui bagaimana segala sesuatu terhubung dengan keseluruhannya sebelum masuk ke dalam detail.

Walaupun orang-orang AA cukup banyak jumlahnya, namun dunia tidak berjalan dengan gaya AA. Orang-orang dengan cara berpikir AA bekerja dengan baik dalam situasi-situasi yang menuntut kreatifitas dan harus bekerja lebih giat dalam situasi yang lebih teratur.

Berikut tips Belajar untuk Pelajar dengan Gaya Berpikir Sekuensial Abstrak, klik disini.

Pemikir Sekuensial Abstrak (SA)

Realitas bagi para pemikir sekuensial abstrak adalah dunia teori metafisis dan pemikiran abstrak. Mereka suka berpikir dalam konsep dan menganalisis informasi. Mereka sangat menghargai orang-orang dan peristiwa-peristiwa yang teratur rapi. Adalah mudah bagi mereka untuk meneropong hal-hal penting, seperti titik-titik kunci dan detail-detail penting. Proses berpikir mereka logis, rasional, dan intelektual.

Aktivitas favorit pemikir sekuensial abstrak adalah membaca, dan jika suatu proyek perlu diteliti, mereka akan melakukannya dengan mendalam. Mereka ingin mengetahui sebab-sebab di balik akibat dan memahami teori serta konsep. Seperti yang dapat anda bayangkan, orang-orang ini adalah filosof-filosof besar dan ilmuwan-ilmuwan peneliti. Biasanya, mereka lebih suka bekerja sendiri daripada berkelompok.

Berikut tips Belajar untuk Pelajar dengan Gaya Berpikir Sekuensial Abstrak, klik disini.



DAFTAR PUSTAKA
- Bobbi DePorter dan Mike Hernacki, 2003. Quantum Learning. Kaifa: Bandung

Thursday, July 31, 2014

Cara Memilih Model Pembelajaran Yang Tepat

Proses belajar mestinya berjalan menyenangkan untuk anak-anak didik. Ini adalah hal yang sesungguhnya sangat mendasar dari sebuah proses belajar. Namun seringkali pada kenyataanya proses belajar menjadi tidak menyenangkan dikarenakan banyak faktor, salah satunya pemilihan model pembelajaran yang kurang tepat. Selain itu, gaya belajar dan gaya berpikir siswa yang berbeda-beda juga menjadi salah satu kendala.

Oleh karena itu, seorang pembelajar harus mengetahui terlebih dahulu gaya belajar, gaya berpikir, dan situasi dirinya. Dengan begitu, pembelajar akan dengan cepat mendalami sesuatu, segalanya dapat dengan mudah, cepat, dan mantap dikaji dan didalami dengan suasana yang menyenangkan. Dan bagi pendidik, penting sekali untuk mengetahui gaya belajar dan gaya berpikir tiap-tiap anak didik agar dapat menentukan model pembelajaran seperti apa yang paling tepat.

Gaya belajar seseorang adalah kombinasi dari bagaimana ia menyerap informasi dan kemudian mengatur serta mengolah informasi (Bobbi DePorter dan Mike Hernacki, 2003). Secara umum menurut DePorter modalitas terdiri dari tiga macam, yaitu modalitas visual (belajar dengan cara melihat), modalitas auditorial (belajar dengan mendengarkan) dan modalitas kinestetik (belajar dengan cara bergerak, bekerja dan menyentuh). 

Sedangkan gaya berpikir adalah kombinasi kelompok perilaku yang merupakan paduan antara persepsi otak (persepsi konkret dan persepsi abstrak) dan kemampuan pengaturan informasi (sekuensial dan acak). Orang yang masuk dalam dua kategori “sekuensial” cenderung memiliki dominasi otak kiri, sedangkan orang-orang yang berpikir secara “acak” biasanya termasuk dalam dominasi otak kanan (Bobbi DePorter dan Mike Hernacki, 2003). Tidak setiap orang harus masuk ke dalam salah satu klasifikasinya. Walaupun demikian, kita cenderung pada yang satu daripada yang lainnya. Beberapa orang bisa saja mempunyai keseimbangan diantara semua cara, namun kebanyakan jelas lebih menyukai satu cara dan melampaui tiga cara lainnya. 

Mengetahui kecenderungan cara berikir sejak dini membuat kita mampu memecahkan suatu masalah dengan memilih solusi paling efektif bagi keadaan semacam itu. Dengan kata lain, kita telah menyiapkan “karpet merah” menuju lebih banyak kesuksesan dengan mengetahui dominasi cara berpikir kita sejak dini.

Model pembelajaran merupakan suatu pola/rencana yang dilakukan untuk mengorganisir unsur-unsur (komponen-komponen) pembelajaran. Model pembelajaran dalam penerapannya, secara umum bercirikan lima hal, yaitu sintaksis, hubungan guru-murid (prinsip reaksi guru), sistem sosial, penunjang (sistem pendukung), dan dampak instruksional (efek pengajaran / pengiring).

Dengan demikian efektif tidaknya suatu proses pembelajaran akan sangat tergantung antara metode dan model pembelajaran yang digunakan guru dengan kecenderungan gaya berpikir siswanya. 

Pada penelitian yang pernah dilakukan Anthoni Gregorc, dengan menggunakan metode quisioner yang dijawab oleh beberapa orang dan kemudian dikumpulkan kembali dan diolah untuk mendapatkan kesimpulan diketahui bahwa sesorang itu memiliki kecenderungan gaya berpikir sekuensial konkret (SK), sekuensial abstrak (SA), acak konkret (AK), dan acak abstrak (AA). 



DAFTAR PUSTAKA
- Bobbi DePorter dan Mike Hernacki, 2003. Quantum Learning. Kaifa: Bandung